Kasus JJ. Rizal

Salah Tangkap: Pengakuan Para Korban

Posted by putradayakkalbar in Dec 17, 2009, under Kasus JJ. Rizal

  Liputan 6 - Kamis, 17 Desember       Kirim via YM   Cetak

Salah Tangkap: Pengakuan Para Korban

Liputan6.com, Jakarta: Untuk yang kesekian kalinya, kasus salah tangkap kembali terjadi. Yang terbaru dialami J.J. Rizal, sejarawan Universitas Indonesia dan Kasman Noho, warga Gorontalo. Kasus lama juga menimpa Imam Hambali alias Kemat. Tak sedikit kalangan menilai kasus ini menunjukkan ketidakprofesionalan polisi dan sebagai tindakan yang memalukan.

Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S. Pane, cacatnya mental polisi terjadi sejak empat tahun silam. Berdasarkan pengamatannya, telah terjadi krisis hati nurani di jajaran bawah kepolisian. “Polisi jajaran bawah sejak masuk polisi sudah salah didik,” jelas Neta dalam dialog bersama reporter SCTV Rieke Amru dalam program Barometer, Rabu (16/12) malam.

Turut hadir di Studio Liputan 6 SCTV, Jakarta, adalah Rizal, Kasman, Hambali, dan Kepala Bidang Penerangan Umum Markas Besar Kepolisian RI Komisaris Besar Polisi I Ketut Untung Yoga Ana. Tak tertinggal pengamat kepolisian UI Erlangga Masdiana.

Menurut Neta, sejak awal masuk kepolisian para perwira ditempatkan di Dalmas (Pengendalian Massa). Efeknya, kondisi itu membentuk pribadi polisi menjadi keras. “Watak kekerasannya sudah nempel,” ucap Neta. Kekerasan itu pernah dijabarkan dalam buku karya Neta: Jangan Bosan Kritik Polisi. Di mana dalam bab pertama ia menulis judul Sapu Kotor itu Bernama Polisi.

Bisa jadi itulah yang dirasakan Rizal yang dianiaya lima polisi di Depok, Jawa Barat, 6 Desember silam. Ketika itu ia dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Saat melintas dekat Depok Town Square mendadak ada yang teriak maling dan ia disergap empat orang tak dikenal. Tanpa basa basi, Rizal langsung dipukul. “Mereka lebih banyak memukul daripada berkata,” tutur Rizal.

Kasman juga dianiaya dengan cara dipukul oleh polisi. Parahnya lagi tangan korban dipaku saat diperiksa. Akibatnya, ia dirawat intensif di rumah sakit setempat lantaran tubuhnya penuh luka bekas siksaan [baca: Keluarga Kasman Tuntut Pelaku Penyiksaan].

Adapun Imam Hambali pernah divonis Pengadilan Negeri Jombang hukuman penjara 17 tahun karena melakukan pembunuhan terhadap Asrori. Belakangan diketahui Asrori adalah korban pembunuhan Very Idham Henyansyah alias Ryan, si penjagal dari Jombang, Jawa Timur.

Pada kesempatan itu, Yoga Ana meminta maaf mewakili instansinya. Ia bertekad memperbaiki kesalahan dan menindak tegas jajarannya yang ketahuan salah tangkap dan menganiaya korban. “Dia harus pertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan,” kata Yoga.

Biarlah hukum berjalan. Sebab Erlangga optimistis sistem bisa diperbaiki. “Pendidikan tak hanya di ruangan, tapi secara menyeluruh juga di lapangan,” ucap Erlangga. Ia menyatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan polisi brutal. Dua di antaranya kualitas pendidikan yang tidak bagus dan tingkat stres yang tinggi.

Lantaran itulah, Rizal, Kasman, dan Hambali berharap tindak kekerasan oleh polisi tak terulang. Berkaca dari kejadian ini, Rizal ingin masyarakat yang bernasib serupa untuk berani bertindak tegas. “Bahwa polisi itu tidak kebal,” ujar Rizal. Sementara Neta berharap Yoga merealisasikan ucapannya. Ia menyayangkan polisi yang menganiaya Kemat misalnya, masih bertugas di kepolisian. Selengkapnya, simak video program Barometer edisi pekan ini.(AIS/ANS)

   6 rekomendasi     Kirim via YM   Cetak

Artikel Terkait

Leave a Comment more...

Korban Salah Tangkap Melapor ke Polda Metro

Posted by putradayakkalbar in Dec 10, 2009, under Kasus JJ. Rizal

   Tempo - Minggu, 6 Desember     Kirim via YM   Cetak

Korban Salah Tangkap Melapor ke Polda Metro  

TEMPO Interaktif, Jakarta - JJ Rizal, korban penganiayaan personel Kepolisian Sektor Beji, siang ini melapor ke Kepolisian Daerah Metro Jaya. Permohonan maaf dari Kepala Kepolisian Resor Depok atas kelalaian anak buahnya ia anggap belum menyelesaikan masalah.

“Persoalan ini tidak cukup berhenti dengan permohonan maaf,” ujar dia sebelum memasuki ruang Sentra Pelayanan Kepolisian, Minggu (6/12).

Rizal dianiaya beberapa petugas Kepolisian Sektor Beji, Depok kemarin malam sekitar pukul 23.00 WIB. Musibah ia alami ketika ia sedang mencari kendaraan umum di depan Margo City. Direktur Komunitas Bambu itu mendadak disergap oleh empat personil kepolisian berbaju preman tanpa alasan yang jelas. Merasa terancam bahaya, ia pun lekas melakukan perlawanan sambil meminta pertolongan. Tapi upaya itu malah dijawab petugas dengan mengeluarkan kartu pengenal polisi sambil menodongkan pistol.

“Saya dipukuli hampir 15 menit,” kata Rizal. Tidak cukup sampai di situ, beberapa menit berselang, sejumlah petugas polisi berseragam datang dengan mengendarai mobil. Rizal yang sudah dalam keadaan tidak berdaya lalu digelandang ke kantor Polsek Beji. “Di tempat itu saya dipukuli lagi. Petugas baru menginterogasi saya setelah itu,” jelas Rizal.

Perlakuan arogan petugas mulai mereda setelah Rizal diberikan kesempatan menjelaskan identitas dirinya. Sadar dalam posisi bersalah, petugas menjelaskan Rizal diciduk lantaran dicurigai bagian dari komplotan preman yang biasa mangkal di sekitar pusat perbelanjaan tersebut. Permohonan maaf langsung disampaikan Kepala Kepolisian Sektor Beji. Tapi ia juga ikut menyalahkan Rizal.

“Makanya, kalau ditangkap jangan melawan. Nanti disikat,” ujar Rizal mengulangi ucapan Ajun Komisaris Sukardi. Permohonan maaf juga disampaikan Kepala Kepolisian Resor Depok, Ajun Komisaris Besar Saidal Mursalin siang tadi. Ia bahkan meminta Rizal untuk tidak memperpanjang masalah dan menyelesaikannya secara kekeluargaan.

Rizal datang sekitar pukul 14.00 WIB dengan mengendarai mobil jazz hitam B 8017 OV bersama salah seorang sahabatnya. Alumni jurusan sejarah Universitas Indonesia datang mengenakan kaos polo berwarna biru dengan mengenakan sendal jepit. Luka memar yang ia alami akibat pukulan petugas kepolisian tampak mulai mengempis. “Malam tadi saya sudah visum di Rumah Sakit. Hasilnya baru keluar besok Senin,” kata dia.

RIKY FERDIANTO

   Tidak ada rekomendasi     Kirim via YM   Cetak

Artikel Terkait

Leave a Comment more...

Lagi, Polisi Aniaya Korban Salah Tangkap

Posted by putradayakkalbar in Dec 10, 2009, under Kasus JJ. Rizal

  Liputan 6 - Senin, 7 Desember       Kirim via YM   Cetak

Lagi, Polisi Aniaya Korban Salah Tangkap

Liputan6.com, Depok: Seorang peneliti sejarah Universitas Indonesia dianiaya lima polisi di Depok, Jawa Barat, Ahad (6/12). Ironisnya, korban yang diketahui bernama JJ Rizal ini adalah korban salah tangkap. Rizal tidak terima meski Kepala Kepolisian Resor Depok telah meminta maaf. Ia pun melaporkan kasus penganiayaan dirinya ke Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya.

Kasus yang menimpa Rizal bukanlah yang pertama. Seorang pemuda di Gorontalo juga dianiaya dengan cara dipukul oleh polisi. Bukan cuma itu, sang korban Kasman Noho juga dipaku tangannya saat diperiksa polisi. Akibatnya, Kasman pun harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat lantaran tubuhnya penuh luka bekas siksaan.

Dari dua kasus beruntun ini, wajar bila profesionalisme maupun kinerja polisi dipertanyakan. Kekerasan dan penyiksaan masih menjadi alat dalam menjalankan tugas. Ironisnya lagi, kekerasan ini selalu meminta korban orang kecil. Sementara untuk orang berdompet tebal, mendapat perlakuan berbeda.

Kedua petinggi polisi di Depok dan Gorontalo memang telah minta maaf. Namun tidak berarti kasus ini selesai. Pimpinan Polri pun mendapat tugas berat untuk mengembalikan citra polisi sebagai pelayan dan pelindung masyarakat. Selengkapnya simak video berita ini.(ASW)

   33 rekomendasi     Kirim via YM   Cetak

Artikel Terkait

Leave a Comment more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Archives

All entries, chronologically...